RASENSI
BUKU
Nama : Rani.A. Simbolon
Semester : IV (Empat)
Mata
Kuliah : Tafsiran Perjanjian Lama
Judul
Buku : Kitab-Kitab Sejarah
Pengarang :L. Thomas Holdcroft
Dosen : Pdt.M.P. Aritonang, M.Th
KITAB-KITAB SEJARAH
KITAB YOSUA
Kitab Yosua merupakan kitab keenam
dalam Alkitab, melanjutkan riwayat bangsa israel yang terhenti oleh kematian
Musa. Dimana kitab Pentateukh mencatat sejarah Israel sampai masa bangsa itu
berkumpul di lembah Moab yang terletak disebelah Timur sungai Yordan. Jadi para
pengganti Musalah yang mencatat penyeberangan sungai Yordan dan penaklukan
negeri yang dijanjikan.
Sifat dan tema kitab
Kitab Yosua adalah sebuah kitab
Militan, yang melaporkan kemenangan-kemenanganbangsa Israel dalam usaha
menaklukkan dan memiliki negeri
Perjanjian. Kitan ini telah dsamakan dengan kitab Ksah Para Rasul dimana masing-masing kitab ini menguraikan suatu
umat yang telah mengetahui kebenaran,sedang mendesak masuk untk mengamankan
warisan mereka dan memakainya dalam pelayanan Allah. 12 pasal yang mula-mula
dari kitab Yosua meneritakan peristiwa-peristiwa penaklukan atas negeri itu. 12
pasal pembagian negeri diantara suku-suku Israel.
Pengarang kitab
Menurut ayat pertama kitab ini Yosua
disebutkan sebagai “pengganti Musa”. Ini dapat disimpulkan bahwa ia
diperkenalkan sebagai orang yang mengumpulkan dan mencatat data yang dimuat
dalam kitab ini. Dan pada saat itu Yosua beraa-sama dengan Kaleb (yang
diselamatkan dalam pengembaraan dipadang Gurun) Bilangan 14:30.
Penyerbuan
ke Palestina (pasal 1-5).
Tugas
dan amanat yang diperoleh Yosua(pasal 1)
Kematian
Musa tidak mengagetkan Allah karena ia memiliki Yosua yang siap untuk
melanjutkan pekerjaan-Nya. Tetapi bukanlah pengganti Musa dalam segala hal ,
karena tidak seorangpun yang dapat kecuali Yesus Kristus yang dianggap sebagai
pengganti pemberi hukum yang Agung bangsa Israel , tetapi Yosua dipilih untuk
menggantikan Musa sebagai pemimpin bangsa didunia. Musa adalah seorang penberi
hukum, sedangkan Yosua harus memimpin bangsa itu sebagai panglima mereka.
Rahab
dan Dua pengintai (pasal 2)
Kota
Yerikho adalah suatu rintangan yang hebat terhadap gerak maju Israel, dan kota
itu perlu ditaklukkan sebelum daerah yang laindapat direbut. Karena itu salah
satu tindakan pengukuhan Yosua adalah mengutus dua orang pengintai untuk
mengintai kota itu. Ketika kehadiran kedua mata-mata ini dilaporkan kepada raja
Yerikho, mereka akan ditangkap kalau
Rahab tidak menawarkan jalan keluar dan persembunyian bagi mereka. inti dalam
cerita Rahab ini adalah penyertaan Tuhan yang begitu nyata memberkati dan
melindungi Rahab bahkan kedua pengintai.
KITAB HAKIM-HAKIM
Kisah bangsa israel dan kehidupan
mereka ditanah perjanjian dilanjutkan dalam kitan ini. Akan tetapi, penaklukan
dan kemenangan yang diperoleh Yosua diganti dengan laporan-laporan tentang
penindasan dan kekalahan. Kitab hakim-hakim tidak memberikan kisah sejarah yang
kronologis, tetapi menyajikan peristiwa-peristiwa yang terpilih menurut
topiknya. Masa ini ini disebut “zaman kegeapan sejarah Israel” . diman bangsa
Israel tidak berhasil menikmati kedamaian dan kemakmuran yang diinginkan Allah
untuk mereka karena mereka gagal mematuhi ajaran-ajaran ilahi.
Sifat dan tema kitab
Para
pemimpin Israel selama masa ini disebut “hakim-hakim” sesuai dengan versi
septuaginta. Didalam kitab ini ada cacatan tentang 14 orang hakim yang
memerintah dan membebaskan bangsa Israel. Dan hampir dalam setiap kasus
pemerintahan seorang hakim dikaitkan dengan penyimpangan dari rencana Allah
secara berkala yang dilakukan bangsa
Israel, diantaranya adalah:
a. Suatu
generasi yang saleh
b. Keturunan
yang bersifat acuh tak acuh secara rohani.
c. Kemurtadan
secara terang-terangan
d. Hukuman
Allah
e. Pertobatan
nasional dan suatu maasa kesalehan yang baru
f. Dan
seorang pelepas (hakim) yang disedikan Allah
Hukuman
yang Allah izinkan dalam kasus setiap daur peristiwa kemurtadan diwujudkan
dalam suatu penyerbuan yang bersifat menindas oleh bangsa-bangsa Kanaan yang
merupakan tetangga Israel.
Uraian
dari kitab ini:
Pada
pasal 1:1-3:4 merupakan kata pengantar
untuk kitab ini
1. Kemenangan
yang tidak rampung dari suku Yehuda (pasal 1)
2. Kunjungan
Malaikat (2:1-5) artinya seorang malaikat Tuhan agar dapat menyampaikan pikiran
Allah.
3. Rangkuman
peristiwa-peistiwa (2:6-3:4), yang mengemukakan tentang tinjauan umum yang meninjau kembali aliran peristiwa
sejarah Israel, yaitu semacam penyataan filosofis mengenai sifat pokok sejarah
Israel.
Pada
pasal 3:5-16:31 tentang kemurtadan, penawanan dan pembebasan Israel. Dalam
pasal ini akan diceritakan tentang kedudukan para hakim yang ada pada saat itu,
diantaranya:
1. Otniel,
hakim yang diurapi (3:5-11)
2. Ehud,
hakim yang Kidal (3:12-30)
3. Samgar,
hakim dengan tongkat penghalau lembu (3:31)
4. Debora
dan Barak, para hakim yang memerintah bersamaan (4:1-5:31)
5. Gideon,
hakim Bulu domba (6:1-8:35)
6. Abimelekh,
hakim raja yang merampas kekuasaan (9:1-57)
7. Tola,
hakim dari suku isakhar (10:1,2)
8. Yair,
hakim dari Gilead (10:3-5)
9. Yefta,
hakim yang diangkat dengan perjanjian (10:6-12:7)
10. Ebzan,
hakim dari Betlehem (12:8-10)
11. Abdon,
hakim keluarga (12:13-15)
12. Simson,
hakim yang perkasa (13:1-16:30)
Pasal
17-21 tentang Anarki di Israel. Bagian ini menjelaskan suatu masa yang kacau di
Israel , tetapi ada dua peristiwa utama yang menonjol, yaitu:
1. Suku
dan mendirikan kota Dan (17:1-18:31)
2. Nasib
suku Benyamin (19:1-21:35)
KITAB RUT
Peristiwa-peristiwa yang dipaparkan
dalam kitab Rut ini berlangsung selama zaman para hakim. Kisah ini dikemukakan
tidak menyebut-nyebut perselisihan dan perperangan, tetapi menjelaskan tentang
berbagai pengalaman manusia yang normal dan emosi manusia yang dasar. Kitab Rut
ini merupakan kitab yang menceritakan tentang kisah cinta yang tidak begitu
banyak membicarakan hubungan antara seorang pemudi dan seorang pemuda, tetapi
antar seorang wanita muda dengan ibu mertuanya. Kitab Rut sangat berharga
karena ajaran-ajaran yang bersifat khas dan pelajaran-pelajaran yang praktis ada
di dalamnya. Dalam kitab Rut ini ada empat peristiwa yang ada di dalamnya yaitu
:
1. Pilihan
Rut (pasal 1)
2. Rut
berangkat untuk memungut jelai (pasal 2)
3. Rut
mendesakkan tuntutannya pada Boas (pasal 3)
4. Perkawinan
Rut dan Boas (pasal 4)
KITAB
I & II SAMUEL
Kitab
I Samuel pada dasarnya adalah sebuah laporan sejarah, sejarah yang ditulisnya
dengan menekankan kebutuhan dasar akan kerohanian sejati untuk menjamin
kesejahteraan jasmani. Penekanan utama kitab ini adalah status rohani para
pemimpin dan rakyat mereka. Kebesaran dari tokoh-tokoh utama, seperti Samuel,
Saul, dan Daud adalah sepadan dengan minat rohani. Persetujuan bahwa Samuel
yang menulis kitab ini merupakan tradisi rabi, dan di dukung oleh Perjanjian
Lama dan oleh Kristus. Yesus menerima pemuatan kitab ini dalam kanon dan
keaslian kitab ini sewaktu Ia menggunakannya untuk membela tindakan para
muridNya ketika memetik gandum pada hari sabat (Matius 12:3). Kitab ini ditulis
dalam tahun-tahun terakhir kehidupan Samuel, pada waktu Daud bersiap-siap untuk
menerima takhta kerajaan. Kata kunci I Samuel adalah “berdoa” (doa) dengan
pemikiran bahwa kebutuhan rohani yang paling ditekankan dalam kitab ini. Ayat
kunci yang cocok untuk kitab ini adalah (12:23a), Mengenai aku, jauhlah
daripada untuk berdosa kepada Tuhan dengan berhenti mendoakan kamu.
Dalam
naskah Ibrani yang asli I dan II Samuel merupakan satu kitab. Kitab II Samuel
kurang bersifat sejarah, dan lebih bersifat biografi di bandingkan dengan kitab
I Samuel. Realitas kehidupan rohani dan rasa persekutuan pribadi dengan Allah
sangat ditekankan dalam kitab II Samuel. Kitab ini kadang-kadang disebut “Kitab
Raja” karena hampir seluruh kitab ini mengenai Raja Daud. Kata ‘raja’ ditemukan
sebanyak 278 kali dalam kitab ini. raja Daud mendapati bahwa apapun juga status
seseorang dalam hidupnya, ia harus terus menerus hidup dekat dengan Allah. Ia
belajar bahwa akibat-akibat kegagalan sangat jauh dampaknya bagi segala
manusia, apakah mereka itu raja atau orang biasa. Alkitab menunjkan fakta bahwa
sejak Daud berbuat dosa yang hebat itu sampai pada kematiannya,
ketidakbahagiaan dan kesulitan membuntuti langkah-langkahnya dan kunci kitab
ini ialah di hadapan Tuhan di temukan dalam II Samuel 5:12.
Nilai kitab ini terutama berfaedah karena
pelajaran-pelajaran moral yang dikemukakan dua kebenaran yang menonjol yaitu :
pertama, Dampak dosa seorang beriman jauh melebihi dampak dosa orang lain.
Kedua, meskipun dosa diampuni dosa itu dapat juga dihukum. Kitab II Samuel
mengandung pengertian Mesianis yang patut dierhatikan karena Daud merupakan
tokoh utama dalam nubuat Mesianis. Keturunan Daud kerap kali disebut dalam
keternagan-keterangan tentang Kristus.
KITAB
I & II RAJA-RAJA
Dalam
kanon bahasa Ibrani I&II Raja-raja merupakan satu kitab, dan digolongkan
kitab nabi-nabi yang terdahulu. Kedua kitab Raja-raja menceritakan seluruh
cerita tentang berkembangnya kerajaan Israel, dan kemudian terus-menerus
merosot sampai akhirnya dihancurkan oleh tentara penyerbu. Meskipun hanya satu
kali Kitab Riwayat Salomo, satu teori yang masuk akal berpendapat bahwa pasal 1
sampai dengan pasal 11 dalam kitab I Raja-raja berasal dari sumber kitab
Tawarikh. Kitab I Raja-raja adalah sebuah laopar sejarah tentang kerajaan Israel
dari saat kematian Daud sampai pemerintahan Ahab dan Yosafat. Maksud utama dari
kitab I & II Raja-raja bukanlah untuk memaparkan sejarah, tetapi
sebaliknya, agar dari sejarah itu dapat dibuktikan kenyataan bahwa tangan Allah
yang memelihara sedang bekerja dalam umatNya.
Demikian para ahli berusaha untuk menetapkan
bahwa pengarang kitab Raja-raja bukanlah seorang yang berhubugan dengan
kitab-kitab Samuel yang lebih awal, melainkan adalah orang yang menyaksikan
pembuangan ke Babel, dan yang mungkin turut mengalami pembuangan itu. Seorang
terkemuka yang memenuhi syarat di atas
dan yang disokong sebagai pengarang oleh tardisi, yang termasuk Tamlud, adalah
Yeremia. Alasan-alasan mengenai pernyatan itu adalah: pertama, kitab I, II
Raja-raja dan kitab Yeremia mencantumkan ayat-ayat yang sejajar yang hampir identik misalnya: cerita tentang
kejatuhan Yerusalem, II Raja-raja 24:18-25:30 dan Yeremia 52:1-34. Kedua,
terdapat kata-kata bahasa Ibrani yang khas ditemukan hanya dalam dua kitab ini
misalnya “buli-buli” dalam I Raja-raja 14:13 dan Yeremia 19:1 atau kata yang
khusus untuk “menyembunyikan diri” (kata Ibraninya chabah) dalam I Raja-raja 22:25 dan Yeremia 49:10. Ketiga suatu
minat yang khusus terdapat kitab-kitab Pantateukh menjadi hal yang umum dalam
kedua kitab.
Kata
kunci dari kitab ini adalah “seperti Daud, ayahnya.” Kata-kata ini atau setara
dengan itu, terdapat sekurang-kurangnya
25 kali dalam I Raja-raja. Nilai kitab I Raja-raja dengan rincicn yang
teliti menurut sejarah bangsa Israel dan
takhta Daud yang mempunyai hubungan penting dengan perjanjian ilahi. Kisah
terbaginya kerajaan Israel menyusul kematian Salomo, tentu saja merupakan
peristiwa pokok yang harus diingat untuk seluruh bagian lain dari sejarah
bangsa itu. Cerita-cerita dari kitab ini memberikan latar belakang untuk
pelayanan para nabi, dan dengan demikian memberikan keterkaitan dan penerapan
dalam zamannya.
KITAB-KITAB TAWARIKH
Dalam
kanon bahasa Ibrani kedua kitab Tawarikh dilestarikan sebagai satu kitab sampai
tahun 1517. Sampai masa itu judul kitab Tawarikh dalam bahasa Ibrani
diterjemahkan dengan berbagai cara sebagai “Tawarikh Zaman” atau
“peristiwa-peristiwa Zaman.” Kanon bahasa Ibrani menghubungkan Tawarikh dengan
Ezra-Nehemia (yang merupakan satu kitab dalam kanon itu) dan Daniel. Alkitab
tidak menyebutkan nama penulis kitab-kitab Tawarikh. Akan tetapi, menurut
anggapan banyak orang, termasuk para ahli tradisi Yahudi, kitab-kitab ini
disusun oleh Ezra, terkecuali bagian-bagian yang berkenaan dengan kematiannya.
Ezra secara langsung melanjutkan kisah dari kitab Tawarikh.
Hubungan
antara kitab Ezra dan kitab Tawarikh dapat dinyatakan sebagai berikut:
a) Kedua
kitab tersebut kadang kala menggunakan istila-istilah Kasdim.
b)
Kedua kitab menyebut sebuah mata
uang Persia yang dikenal dengan dram
atau dirham (I Tawarikh 29:7;Ezra
2:69).
c) Kedua
kitab menggunakan frase yang sama ketika mengutip Taurat, “sesuai dengan peraturan
yang berlaku” (I Tawarikh 23:31;Ezra 3:4).
d) Kedua
kitab itu menulis dari segi keimaman.
e) Gaya
sastra dalam keduanya sangat mirip.
Dalam
penyajian yang bersifat sejarah, kitab-kitab Tawarikh hampir semata-mata
berbicara tentang kerajaan Yehuda. Pemikiran utama penulis ingin sekali
mengagungkan Allah dan memberinya tempat yang pantas iantara umatNya. Ayat-ayat kunci adalah, “Sebab
kekayaan dan kemuliaan berasal daripadaMu dan Engkaulah yang berkuasa atas
segala-galanya; dalam tangan- Mulah kekuatan dan kejayaan”(I Tawarikh 29:12)
atau “Percayalah kepada Tuhan, dst (II Tawarikh 20:20). Ayat-ayat ini
mengemukakan kebenaran bahwa Allah berdaulat dan bahwa berkat serta nilai dalam
hidup ini ditemukan melalui pelayanan dan pengabdian yang penuh ketaatan
kepadaNya. Kitab ini merupakan suatu penyingkapan berharga tentang kata-kata
dan pemikiran ilahi yang mendasari fakta-fakta sejarah yang telah diketahui.
Juga mendaftarkan serangkaian dan pembagian para imam orang Lewi, serta
melaporkan prosedur dalam melaksanakan ibadah umum pada masa pemerintahan Daud,
Salomo, Hizkia, dan Yosia.
KITAB EZRA
Kemudian
kitab Ezra melanjutkan kisah yang terhenti dalam kitab Tawarikh dan
mengembangkan cerita tentang kembalinya bangsa Yehuda ketanah Kanaan. Kitab
tersebut mendapat namanya dari fakta bahwa riwayat hidup Ezra diceritakan dalam
pasal 7 sampai pasal dengan pasal 10. Tokoh-tokoh dan peristiwa-peristiwa yang
sezaman dengan kisah yang diuraikan dikitab Ezra adalah Nehemia, Ester, Hagai,
Zakharia dan Maleakhi. Kitab ini menambahkan sejumlah ciri yang berhubungan
dengan Tawarikh yang mencakup: penghormatan luar biasa terhadap Taurat Allah,
minat terhadap upacara dibait suci, perhatian terhadap kelompok-kelompok musik
diantara kaum Lewi, dan penyebutan secara cermat nama para peserta dalam
berbagai peristiwa keagamaan.
Kitab
Ezra merupakan sejenis catatn harian atau laporan jurnal tentang dua kali
pemulangan orang-orang Yahudi yang menjadi tawanan ketanah air mereka. Pasal 1
sampai pasal 6 memeparkan kembalinya bangsa Yahudi dibawah pimpinan Zerubabel
dan Yesua, sedangkan pasal 7 sampai pasal 10 menguraikan kembalinya bangsa
Yahudi dibawah pimpinan Ezra sendiri. Kitab ini menenkankan bahwa
peristiwa-peristiwa yang dipaparkannya adalah hasil dari penggenapan firman
Tuhan. Ezra dengan sangat hidup memperlihatkan kesetiaan Allah dalam
mempertahankan Firman-Nya dan secara wajar mengemukakan keperluan mutlak untuk
taat pada firman Allah dalam segala situasi kehidupan. Pada waktu umat Allah
berada dalam hubungan yag benar dengan-Nya, maka Firman-Nya akan menjangkau
seluruh kehidupan mereka, yang mencakup bidang agama, sosial, dan pemerintahan.
KITAB NEHEMIA
Antar
kitab Ezra dan kitab Nehemia terdapat selang waktu singkat sekitar 12 tahun.
Dua kitab tersebut mestinya bersama-sama, dan sebagaimana telah dikatakan dalam
kitab suci bahasa Ibrani, keduanya merupakan satu kitab. Kitab Nehemia
khususnya menceritakan riwayat Hidupny, sekalipun keberuntungan sisa umat
Yahudi yang ada di Paetina berkaitan erat dengan kehidupannya.